Politik identitas telah menjadi fenomena global yang mewarnai dinamika kekuasaan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di negara dengan tingkat kemajemukan yang tinggi. Secara konseptual, politik identitas adalah praktik politik yang berbasis pada latar belakang kesamaan identitas tertentu, baik itu suku, agama, ras, maupun golongan. Di satu sisi, gerakan ini dapat menjadi alat perjuangan bagi kelompok yang merasa terpinggirkan untuk mendapatkan hak-hak sipilnya. Namun, di sisi lain, penggunaan identitas sebagai instrumen utama dalam perebutan kekuasaan sering kali membawa dampak yang mengkhawatirkan terhadap fondasi persatuan kebangsaan.
Polarisasi Sosial dan Fragmentasi Masyarakat
Salah satu dampak yang paling nyata dari penguatan politik identitas adalah terciptanya polarisasi sosial yang tajam. Ketika identitas kelompok dijadikan komoditas politik, masyarakat cenderung terbelah menjadi kelompok “kita” melawan “mereka”. Narasi yang dibangun sering kali bersifat eksklusif dan mengedepankan sentimen emosional daripada adu program atau gagasan yang rasional. Dalam masyarakat yang majemuk, perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan bangsa justru berubah menjadi sekat pemisah yang kaku. Fragmentasi ini tidak hanya terjadi di level elit politik, tetapi juga merambat hingga ke akar rumput, menciptakan ketegangan dalam interaksi sosial sehari-hari yang merapuhkan kohesi nasional.
Erosi Toleransi dan Semangat Kebinekaan
Masyarakat yang majemuk membutuhkan ruang toleransi yang luas agar setiap individu dapat hidup berdampingan secara damai. Namun, politik identitas sering kali mengeksploitasi perbedaan untuk menciptakan solidaritas semu di dalam kelompok sendiri dengan cara mendiskreditkan kelompok lain. Praktik ini secara perlahan mengikis semangat kebinekaan yang telah lama dirajut. Sikap saling menghargai digantikan oleh rasa curiga dan prasangka. Jika dibiarkan, erosi toleransi ini dapat memicu konflik horizontal yang sulit dipadamkan, karena isu identitas menyentuh aspek primordial yang sangat sensitif bagi setiap individu.
Degradasi Kualitas Demokrasi Nasional
Politik identitas juga berdampak buruk pada kualitas demokrasi suatu negara. Dalam sistem demokrasi yang sehat, pemilihan pemimpin seharusnya didasarkan pada kompetensi, integritas, dan visi misi pembangunan. Ketika identitas menjadi faktor penentu utama, maka substansi dari demokrasi itu sendiri akan hilang. Para calon pemimpin tidak lagi merasa perlu menawarkan solusi konkret atas permasalahan bangsa, melainkan cukup dengan memainkan sentimen identitas untuk menarik simpati pemilih. Hal ini menyebabkan stagnasi dalam kepemimpinan nasional karena kualitas intelektual dan kapabilitas kepemimpinan terabaikan demi memenuhi tuntutan representasi kelompok tertentu.
Ancaman Terhadap Stabilitas Keamanan Negara
Dampak jangka panjang yang paling berbahaya dari politik identitas adalah ancaman terhadap stabilitas keamanan dan kedaulatan negara. Sejarah mencatat bahwa banyak bangsa besar runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena perpecahan dari dalam. Ketidakpuasan kelompok yang merasa tidak terwakili atau adanya kelompok yang merasa lebih dominan dapat memicu gerakan separatisme atau radikalisme. Persatuan kebangsaan adalah modal utama dalam menjaga kedaulatan. Jika ikatan kebangsaan ini longgar akibat pertikaian identitas yang tiada henti, maka ketahanan nasional akan melemah dan bangsa menjadi mudah diadu domba oleh kepentingan luar yang ingin memecah belah.
Menghadapi tantangan ini, diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai persatuan yang inklusif. Pendidikan politik yang dewasa dan penguatan ideologi negara yang mampu memayungi semua keberagaman menjadi kunci utama. Politik identitas mungkin memberikan kemenangan jangka pendek bagi segelintir pihak, namun kerugian yang ditimbulkannya terhadap persatuan kebangsaan bisa berdampak selama bergenerasi-generasi. Mengedepankan identitas sebagai warga bangsa di atas identitas golongan adalah satu-satunya jalan untuk memastikan keberlangsungan bangsa yang majemuk ini di masa depan.




